kepala desanya dan penduduknya ramah menyambut kami yang notabene orang kota yang ngaku dari unhas mau mengadakan penelitian di air terjun 14 tingkat. tapi menurut penuturan kepala desa air terjun yang ada di desanya ngga ada yang sampai 14 tingkat. tapi pak kepala desa bilang ada memang air terjun yang sangat besar tapi berada sangat jauh, perlu jalan kaki 1 hari satu malam. akhirnya kami mengurungkan niat ke air terjun 14 tingkat yang memang belum jelas ada atau tidak, jadi kami memilih ke air terjun yang berada di sekitar desa gattareng yang ditempuh setengah jam berjalan kaki melintasi kebun-kebun penduduk. Ternyata air terjun ini di manfaatkan sebagai sumber air bersih desa dan pengairan. kami memilih camping di sekitar air terjun terjun. keesokan harinya kami kembali ke rumah kepala desa, memang kepala desa yang patut jadi teladan. sampai di rumah kepala desa kami di jamu makan pagi dan kami menanyakan tentang To balo yang ada di daerah barru. dan kebetulan pak desa masih punya hubungan keluarga dengan To balo, pak desa bilang rumah To balo itu masih ada 30 km dari sini, pak desa menyarankan mencarter mobil yang biasa mengantar penduduk desa ke barru. kalau bukan pak desa yang langsung meminta kepada itu sopir untuk di carter mobilnya untuk mengantar kami ke To balo, si sopir pasti menolak karena dia sudah ada penumpang yang akan di antar ke barru dan jumlah kami memang banyak yaitu 13 orang dan harus numpuk di mobil suzuki cary, 7 dibelakang 6 di tengah dan supir dan kernek serta satu penumpang mobil itu. di perjalanan ternyata sopir itu juga tidak tahu dimana rumah To balo, ya kami pun bertanya ke tiap orang yang kami temui di jalan dan kami pun singgah di rumah salah satu warga dan ternyata ini rumah kepala desa tapi saya lupa desa apa itu namanya. dan kepala desa itu yang sedang ada di kebunnya kami pun minta tolong ke anaknya kepala desa itu untuk memanggil bapaknya. tidak lama kemudian pak desa muncul dengan senyuman merekah menyambut kami, mungkin pak desa sangat senang di kunjungi oleh orang kota yang mungkin mereka mengira kami akan kkn di desanya, pak desa memberitau kami kalau kediaman To balo, ikuti saja jalan aspal ini terus di ujung ada persimbangan belok kiri yang jalannya belum di aspal. dan sampai di sana temui pak desanya karena biasanya To balo tidak mau di temui oleh orang belum dikenalnya atau orang asing. sesampainya disana ternyata pak desanya tidak bisa mengantar kami kami karena da keperluannya yang tidak bisa ditunda dan pak desa menyuruh kami menemui adiknya bernama bu hasan, kami pun menyusuri jalanan kampung itu dan mendatangi rumah bu hasan dan sampai di rumah bu hasan cuma ada anaknya dan bersedia mengantar kami ke To balo, kami bertanya pada anak itu bilang rumah To balo masih jauh sudah dekat atau masih jauh karena saya rasa saya sudah berjalan selama 1 jam naik turun bukit melewati kebun-kebun penduduk, dan saat berpapasan dengan penduduk yang sedang membersihakan kebunnya, saya menyempatkan bertanya bahwa rumah To balo dimana, dia bilang sudah dekat mi, terus mi saja ada itu sungai kecil yang dilewati dekat situ mi itu. tapi setelah 2 jam berjalan tapi belum ada tanda-tanda ada sungai, sekarang aku baru percaya dekat menurut orang desa itu beda dengan dekatnya orang kota. setelah berjalan kira-kira setengah jam akhirnya kami melewati sungai dan ketemu bu hasan adiknya kepala desa yang ternyata seorang lelaki,hehehebu hasan, eh pak hasan tawwa. dia yang mengantar ke rumah To balo.
Rumah panggung yang salah satu tiangnya sudah mulai di grogoti rayap dan itu rumah To balo, disana kami temui anak bungsu To balo yang memili belang di kepalanya yang mirip avatar yang di gendong oleh pengasuhnya yang masih kerabatnya tapi dia tidak belang seperti To balo ini.
setelah melepaskan lelah di rumah To balo kami pun pamit pulang dan kami tidak ketemu bapaknya karena mereka sekeluarga pergi ke ladang. setelah berjalan tidak jauh kami berpapasan dengan bapaknya anak To balo tadi kami menanyai perihal belang yang menimpa keluarganya, si bapak cuma bilang singkat itu karena takdir karaeng taala....
pulangnya kami singgah makan di pangkep di rumah makan 77. belum sempat kami duduk ada pengunjung itu warung makan yang nyeletuk "banjir dimana ini" entah apa maksuna.. tapi memang penampilan kami yang menenteng kerel besar kelihatan kayak pengungsi kapang.hehehe..
setelah makan malam, aksi hitciking mulai tapi hitciking malam pasti susah, akal picik pun beraksi.. yaitu minta tolong di pak polisi untuk di stopkan truk atau pick up yang mau ke makassar. tidak lma kemudian mobil truk pun di stop sama pak polisi dan kami langsung naik kayak kambing, karena memang seharian belum ada yang mandi.ehhehe.








wuiiiii...ad nama saya nihhh diungkitt...hehehehe..jadi ingatt a sdeng...'smua hanya titipann'...heheh
kan di trip ini k'unna bintang utamanya
alhamdulilah tasnya kembali'ji......